Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia mencapai 4,15 juta jiwa usia 15-64 tahun pada 2025, merusak kohesi keluarga melalui konflik emosional, pengabaian tanggung jawab, kekerasan rumah tangga, dan isolasi sosial akibat stigma. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak NAPZA terhadap kebersamaan keluarga, menganalisis peran keluarga dalam rehabilitasi pecandu, serta mengungkap siklus risiko antargenerasi pada keluarga tidak kohesif di wilayah rawan Bandung. Pendekatan kualitatif studi pustaka digunakan dengan analisis content 40 sumber literatur (25 jurnal primer, 15 sekunder) periode 2020-2025 dari database Google Scholar, Sinta, dan Garuda, mengintegrasikan teori kohesi Santrock dan sistem keluarga Bowen. Hasil menunjukkan NAPZA ubah komunikasi harmonis menjadi kecurigaan dan disintegrasi fungsi pengasuhan; keterlibatan keluarga tingkatkan keberhasilan rehabilitasi 70% dan kurangi residivisme 35%, sementara keluarga disfungsional picu 77,4% kasus NAPZA baru melalui pola emosional menular. Implikasi teoritis memperkaya kajian dinamika keluarga NAPZA Indonesia; praktis merekomendasikan program konseling terintegrasi Bandung berbasis edukasi adiksi dan komunikasi untuk perkuat ketahanan keluarga serta putus siklus risiko.
Copyrights © 2026