Salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa SMP kelas VII adalah memiliki keterampilan dalam membuat cerita fantasi. Tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk mengembangkan daya imaji siswa. Daya imajinasi yang diharapkan adalah daya imajinasi yang terstruktur. Siswa diharapkan menuangkan kemampuan imajinasinya ke dalam bentuk struktur cerita fantasi yang terdiri dari orientasi, konflikasi, resolusi, dan koda. Berdasarkan kajian awal yang dilakukan di kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar, keterampilan siswa dalam menulis cerita fantasi masih rendah. Dari 31 siswa, hanya hanya 17 orang (55%) siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (80). Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mengalami kendala dalam proses pembelajaran. Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar dalam menulis cerita fantasi dengan menerapkan model pembelajaran Proyek based Learning (PjBL). Implementasi PjBL memungkinkan siswa untuk merancang dan mengembangkan tulisan melalui berbagai tahapan, seperti perencanaan, penulisan, revisi, dan penyajian karya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian jenis ini dalam pelaksanaannya memungkinkan memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada siswa dalam menulis cerita fantasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita fantasi siswa kelas VII B SMP Dwijendra Denpasar melalui model Project Based Learning (PjBL). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII B, sedangkan objek penelitian keterampilan menulis teks cerita fantasi. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kuantitatif (statistik deskriptif) dan kualitatif (reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan) untuk menggambarkan perkembangan kemampuan siswa dalam menulis cerita fantasi. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Berdasarkan hasil kajian pada siklus I, hanya 15 (48,3%) siswa yang tuntas. Ada 16 (51,61 %) siswa yang belum tuntas. Persentase jumlah ketuntasan masih tergolong kecil. Kendala yang dialami siswa dalam menulis cerita fantasi setelah diterapkannya model pembelajaran PjBL adalah sebagian besar siswa belum memahami struktur cerita fantasi dengan baik. Hal ini menyebabkan struktur cerita fantasi yang dibuat siswa tidak sistematis. Sebagian besar siswa belum memaparkan komflikasi dengan baik. Komflikasi yang dibuat siswa terkesan terburu-buru dan siswa secara cepat ingin mencari resolusi terhadap komplikasi tersebut. Setelah dilakukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan dilakukan pembelajaran pada siklus II, keterampilan siswa dalam menulis teks cerita fantasi mengalami peningkatan yang signifikan. Dari 31 siswa, sebanyak 30 (96,7%) dinyatakan tuntas dalam siklus II. Hanya 1 (3,22%) orang siswa yang mendapatkan skor di bawah KKM. Hal ini menandakan bahwa PjBL efektif untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VII B SMP Dwijendra tahun pelajaran 2024/2025 dalam menulis cerita fantasi.
Copyrights © 2025