Abstrak: Desain Interior perpustakaan sekolah adalah elemen penting dalam peningkatan minat baca sekaligus literasi siswa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan hardskill mitra dalam perencanaan teknis interior serta softskill dalam penyelesaian masalah desain melalui pendekatan partisipatif. Kondisi ruang perpustakaan SMP Negeri Arun yang dibangun pada tahun 1980-an membutuhkan pengkinian untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, fungsional, dan sesuai dengan kebutuhan terkini sekolah. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi Focus Group Discussion dan praktik perancangan desain berbasis design thinking dengan lima tahapan yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Tahap emphatize terdiri dari observasi lapangan, wawancara dan pengukuran objektif untuk memahami kebutuhan pengguna. Tahap define mengidentifikasi masalah inti meliputi penataan ruang tidak optimal, pencahayaan kurang memadai, furniture tidak ergonomis, dan zonasi yang tidak sesuai. Tahap ideate menghasilkan solusi desain yang dikonsultasikan secara berkala dengan stakeholders. Tahap prototype menghasilkan dokumen Detail Engineering Design (DED) dan visualisasi 3D. Tahap test melakukan validasi desain dengan komunitas sekolah. Mitra dalam kegiatan ini adalah perwakilan sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan pustakawan SMP Negeri Arun Lhokseumawe. Sistem evaluasi dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara mendalam. Pengabdian ini menghasilkan desain interior dengan zonasi efisien meliputi area koleksi, zona baca individu, ruang diskusi kelompok, area multimedia dan digital, area pustakawan dan student lounge.Abstract: The interior design of school libraries plays a significant role in enhancing students' interest in reading and literacy. This community service initiative sought to strengthen partners' technical skills in interior planning and problem-solving abilities through a participatory approach. The Arun State Junior High School library, built in the 1980s, needed modernization to create a comfortable, functional learning environment aligned with current educational needs. Implementation methods included Focus Group Discussions and a design thinking framework comprising five stages: empathize, define, ideate, prototype, and test. The empathize stage involved field observations, interviews, and objective measurements to assess user requirements. During the define stage, key issues were identified, such as inefficient space layout, insufficient lighting, non-ergonomic furniture, and inappropriate zoning. The ideate stage generated design solutions that were regularly reviewed with stakeholders. The prototype stage resulted in Detailed Engineering Design (DED) documents and 3D visualizations. The test stage involved validating the design with the school community. Project partners included school representatives, including the principal, teachers, and librarians of SMP Negeri Arun Lhokseumawe. Evaluation was conducted through direct observation and in-depth interviews. The project produced an interior design featuring efficient zoning, including a collection area, an individual reading zone, a group discussion room, a multimedia and digital area, a librarian area, and a student lounge.
Copyrights © 2026