Menyelami pemikiran tasawuf KMSA tidaklah sesederhana melihat dari permukaan isu-isu yang tertuang dalam Kalam Hikmah atau cerita-cerita dari yang mengisahkannya. Akan tetapi, menyelami spiritualitasnya memerlukan mengungkap lapisan-lapisan makna yang terekam dalam amaliah keistiqamahan, kesabaran, keikhlasan, ketawadukan, kewaraannya. Memang amaliah spiritualitas akhlaqi yang dipraktikannya ini sepintas mengandung “kesengsaraan”, dalam pandangan Albert Camus, karena memang harus melalui perjuangan untuk merealisasikan tujuan-tujuan di sebalik itu semua. Yang ingin dicapai oleh amaliah akhlaqi KMSA adalah keyakinan yang berlandaskan kebenaran yang kuat, sebagaimana sudah diajukan argumennya di atas, tidak sekedar mendasari dengan fakta empiris diri sebagaimana Camus tunjukkan. Oleh arena itu, kebahagiaan akhir dari KMSA adalah bertemunya diri dengan Allah kelak di surga-nya, karena itulah standard bahagia sejati baginya. Amaliah spiritualitasnya sangat kuat walau tidak berbalut teori-teori rumit dalam ilmu tasawuf. Namun itu semua bisa dirujuk kepada para sufi berotoritatid seperti Al-Ghazali. Maka istilah-istilah spiritual seperti “istiqamah”, “sabar”, “ikhlas”, “tawaduk”, “wara’” dan lain sebagainya memang kental dengan nuansa-nuansa Ghazalian walaupun tidak secara terus terang. Walaupun istilah-istilah tersebut seperti absurd, kata Camus, namun itu semua mengandung hikmah yang mendalam. Oleh karena itu, sangat pas pikiran-pikiran KMSA di dalam buku itu disebut dengan kalam hikmah.
Copyrights © 2024