Latar belakang dari penelitian ini adalah bahwa Desa Tenganan Pagringsingan Karangasem Bali penghasil Tenun Ikat terbaik di Indonesia. Salah satu Tenun Ikat tersebut adalah Tenun Gringsing yang diproduksi oleh masyarakat di Desa Tenganan Pagringsingan, Kabupaten Karangasem Bali. Desa ini merupakan salah satu desa yang berpenghuni orang Bali Mula atau Bali Aga (Bali Asli) alias Bali yang bukan berasal dari Jawa ketika terjadinya ekspedisi Kerajaan Majapahit ke Bali. Tenun merupakan proses perjalinan antara benang pakan dan benang lungsi. Benang lungsi (benang yang dikaitkan pada alat tenun) dan benang pakan (benang yang dikaitkan pada benang lungsi) yang kalau keduanya dikaitkan akan menghasilkan motif. Proses karya seni kerajinan yang sederhana inilah yang sekarang berkembang menjadi beberapa tekhnik dalam menenun tergantung dari kreatifitas manusianya masing – masing sehingga menghasilkan ciptaan – ciptaan motif tenun yang menarik. Dalam perkembangan tenun selanjutnya terlihat bahwa kain tenun yang dihasilkan bukan lagi sebagai bahan penutup tubuh melainkan kain tenun ini memiliki fungsi lebih dari penutup tubuh, misalnya kain tenun ini memiliki fungsi sebagai pakaian adat atau sebagai identitas daerah pembuatnya. Selain itu, kain tenun dapat dijadikan karya seni yang muncul sesuai dengan kehidupan masyarakat setempat. Tenun gringsing ini menggambarkan tentang sistem keseimbangan yaitu tentang hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Dewa indra yang selalu dipuja oleh masyarakat Tenganan Pagringsingan Karangasem Bali di hormati dengan sebuah ritus perang pandan, rasa sakit seolah sirna oleh gringsing yang selalu membalut tubuh. Gringsing dipercaya dapat terhindar dari penyakit.Lebih kompleks lagi gringsing adalah penolak mara bahaya. Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini di fokuskan pada proses, bentuk motif dan makna simbolik tenun gringsing di Desa Tenganan Pagringsingan Karangasem Bali
Copyrights © 2020