Kondisi kepadatan penduduk di bali saat ini sangat tinggi, mencapai sekitar 793-798 jiwa/km2 pada tahun 2024-2025. Menjadikannya salah satu wilayah terpadat di indonesia. Pertumbuhan pesat ini disebabkan oleh urbanisasi dan pertumbuhan pariwisata dengan tingkat konsentrasi di kota-kota di Bali. Kepadatan penduduk yang tinggi tersebut secara signifikan menurunkan kemampuan masyarakat untuk memiliki rumah yang layak huni akibat keterbatasan lahan karena melonjaknya harga properti. Kebutuhan lahan yang melampaui ketersediaan lahan memicu kompetisi tinggi, memaksa masyarakat beradaptasi dengan hunian padat atau tidak layak secara fasilitas lingkungan. Masyarakat bali yang sebelumnya mempunyai ciri khas hunian dengan arsitektur tradisional bali dimana rumah dengan bangunan yang terpisah-pisah dengan adanya natah (open space) ditengah dan sanggah di hulu menjadi sangat sulit untuk diwujudkan. Kenaikan harga tanah di bali rata-rata 7-15% per-tahun dan dengan biaya pembangunan yang terus naik setiap tahun semakin sulit dijangkau oleh masyarakat umum yang berpenghasilan upah minimum regional. Oleh karena itu solusi rumah tumbuh mutlak menjadi solusi masa depan. Hunian tumbuh adalah konsep hunian fleksibel yang dibangun bertahap sesuai kebutuhan dan anggaran yang memungkinkan penambahan ruang ke arah vertikal atau horizontal tanpa merombak total struktur dasar.
Copyrights © 2026