Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya literasi matematika siswa dalam menghadapi tuntutan pemecahan masalah abad ke-21, khususnya berdasarkan hasil Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan penalaran siswa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa pada tiga level literasi matematika, yaitu perlu intervensi khusus, dasar, dan cakap. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di SMP Cokroaminoto Palopo dengan instrumen berupa tes AKM, tes pemecahan masalah, dan wawancara. Analisis kemampuan pemecahan masalah didasarkan pada tahapan Polya: memahami masalah, merencanakan, menyelesaikan, dan mengevaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa pada level perlu intervensi khusus belum mampu memenuhi seluruh indikator pemecahan masalah, terutama dalam memahami informasi dan menggunakan penalaran. Siswa level dasar telah mampu memahami masalah, tetapi belum mampu merencanakan, menyelesaikan, dan mengevaluasi secara optimal. Sementara itu, siswa level cakap sudah mampu memahami dan merencanakan penyelesaian dengan baik, namun belum sistematis dalam pelaksanaan dan belum mampu melakukan evaluasi secara tepat karena keterbatasan dalam penalaran dan penarikan kesimpulan. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pembelajaran yang lebih terarah untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa.
Copyrights © 2026