Lahan basah buatan (constructed wetlands/CW) merupakan solusi berbasis alam yang efektif untuk pengolahan air sekaligus berpotensi berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan dan penyimpanan karbon. Namun, sistem ini juga dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK) seperti CO2, CH4, dan N2O. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi peran CW sebagai penyerap karbon atau sumber emisi GRK melalui pendekatan neraca karbon terpadu. Pengukuran dilakukan pada tiga sistem CW yang mewakili limpasan pertanian (CW-1), badan air perkotaan tertutup (CW-2), dan CW berbasis mangrove (CW-3). Penyerapan karbon dihitung melalui produktivitas primer, biomassa vegetasi, dan rasio C/N, sedangkan fluks GRK diukur menggunakan metode sungkup statik. Hasil menunjukkan bahwa kapasitas sekuestrasi karbon berbeda signifikan antar sistem. CW-1 dan CW-2 menunjukkan penyerapan karbon rendah (95–130 mgC/m2/hari) dengan rasio C/N rendah (8–10), yang mengindikasikan dominasi dekomposisi bahan organik dan potensi emisi karbon. Sebaliknya, CW-3 menunjukkan penyerapan karbon tinggi (~420 mgC/m2/hari) dan rasio C/N tinggi (18–20), yang mencerminkan akumulasi karbon stabil dalam biomassa dan sedimen. Fluks GRK memperlihatkan bahwa CW-1 dan CW-2 berperan sebagai sumber GRK akibat emisi CH4 dan N2O yang signifikan, sedangkan CW-3 berfungsi sebagai penyerap karbon bersih dengan fluks CH4 negatif dan emisi N2O minimal. Temuan ini menunjukkan bahwa peran CW dalam mitigasi iklim sangat bergantung pada tipe ekosistem dan kondisi operasional. Sistem berbasis mangrove memiliki potensi sekuestrasi karbon jangka panjang yang lebih tinggi dibandingkan CW pertanian dan perkotaan, sehingga optimalisasi desain dan pengelolaan CW penting untuk meningkatkan kinerja karbon bersih dan mendukung strategi net-zero emission.
Copyrights © 2026