Pusat Informasi Wisata merupakan salah satu elemen penting dalam infrastruktur pariwisata yang berperan sebagai media edukasi, pelayanan, dan orientasi bagi pengunjung. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, perancangan Pusat Informasi Wisata tidak hanya dituntut memenuhi fungsi informatif dan representatif, tetapi juga mampu merespons isu lingkungan dan keberlanjutan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji perancangan Pusat Informasi Wisata sebagai media implementatif dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui pendekatan arsitektur hijau. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, analisis prinsip arsitektur hijau, serta penerapannya dalam konsep desain Pusat Informasi Wisata. Parameter analisis meliputi efisiensi energi, respon terhadap iklim, pemanfaatan sumber daya alam, dan kualitas lingkungan binaan, yang dikaitkan dengan target SDGs, khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan strategi arsitektur hijau melalui desain pasif, optimalisasi pencahayaan dan ventilasi alami, penggunaan material ramah lingkungan, serta pengelolaan air dan energi yang efisien mampu meningkatkan kinerja keberlanjutan bangunan. Pusat Informasi Wisata tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pelayanan pariwisata, tetapi juga sebagai sarana edukatif yang merepresentasikan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, arsitektur hijau dapat menjadi pendekatan yang relevan dan kontekstual dalam mendukung pencapaian SDGs melalui perancangan fasilitas publik di sektor pariwisata.
Copyrights © 2026