Model kerja hybrid mengubah pola komunikasi dan interaksi sosial di tempat kerja, terutama pada organisasi yang melibatkan generasi Milenial dan Generasi Z. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengalaman komunikasi antargenerasi serta potensi isolasi sosial yang muncul dalam konteks kerja hybrid. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap pekerja Milenial dan Gen Z di wilayah Denpasar dan Badung. Analisis data dilakukan dengan mengombinasikan model Miles dan Huberman serta pendekatan Gioia untuk mengembangkan tema-tema utama dari pengalaman informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan gaya komunikasi, ritme kerja, dan pemaknaan profesionalisme memicu ambiguitas situasional dan miskomunikasi dalam interaksi daring. Isolasi sosial tidak muncul dalam bentuk penarikan diri dari pekerjaan, tetapi sebagai perasaan tidak dilibatkan, tertinggal informasi, dan berkurangnya keterhubungan emosional dengan tim. Di sisi lain, kohesi kerja tetap terjaga melalui kejelasan peran dan orientasi pada penyelesaian tugas, meskipun kedekatan sosial bersifat terbatas. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan kerja hybrid sangat bergantung pada pengelolaan komunikasi lintas generasi dan pembentukan norma komunikasi bersama, bukan hanya pada fleksibilitas sistem kerja.
Copyrights © 2025