Kajian ini menelaah peran stres kerja dan lingkungan kerja dalam membentuk turnover intention melalui burnout sebagai variabel perantara pada karyawan industri garmen di Kabupaten Demak. Sektor garmen bergantung pada tenaga kerja intensif dan menghadapi tekanan kerja tinggi serta kondisi lingkungan yang berisiko memicu kelelahan. Pendekatan kuantitatif dengan rancangan explanatory research digunakan untuk menguji hubungan kausal antarvariabel. Sampel terdiri atas 100 karyawan tetap dengan masa kerja minimal satu tahun yang dipilih secara purposive. Data diperoleh melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis menggunakan Partial Least Square–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa stres kerja dan lingkungan kerja berkontribusi signifikan pada burnout. Burnout terbukti meningkatkan turnover intention. Kedua variabel kondisi kerja juga berkontribusi langsung terhadap niat keluar. Uji efek tidak langsung menegaskan peran mediasi burnout dalam menjelaskan hubungan antara stres kerja dan lingkungan kerja dengan turnover intention. Temuan ini menempatkan burnout sebagai mekanisme psikologis kunci dalam memahami dinamika niat keluar karyawan pada industri garmen.
Copyrights © 2025