Hasil panen pertanian di Desa Uemakuni masih mengalami naik turun setiap tahunnya. Walaupun desa ini memiliki lahan yang subur, iklim yang mendukung, dan masyarakatnya semangat dalam bergotong royong. Naik turunnya hasil panen ini kemungkinana disebabkan oleh cara pengelohan lahan masih tradisional dan penggunaan teknologi yang belum maksimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui bagaimana penggunaan lahan memengaruhi produktivitas pertanian di Desa Uemakuni. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan lahan terhadap produktivitas pertanian kultural di Desa Uemakuni dengan analisis deskriptif kuantitatif menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Populasi berjumlah 183 petani aktif, pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Hasil evalusai CIPP menunjukan bahwa pertanian masih bersifat kultural. Aspek input, petani menggunakan bibit unggul, pupuk kimia, dan peptisida. Proses budidayanya masih tradisional yaitu dengan tebas bakar, pola tanam tumpangsari dan polikultural, serta pemeliharaan manual. Hasil produktivitas menunjukan perkembangan positif dengan hasil rata-rata pertahun tanaman kelapa 7.361 butir/ha, jagung 10,25 ton/ha, dan cabai 454,8 kg/ha. Secara umum, pertanian di desa ini telah menopang ekonomi masyarakatnya, namun disarankan adanya peningkatan dalam pengelolaan lahan dan penggunana teknologi yang lebih baik lagi. Abstract: Agricultural yields in Uemakuni Village continue to fluctuate annually. Despite its fertile land, favoable climate, and strong community spirit of mutual cooperation, these fluctuations in yields are likely due to traditional land management pratices and the suboptimal use of technology. Therefore, an evaluation is needed to determine how land use affects agricultural productivity in Uemakuni Village. This study aims to evaluate land use on cultural agricultural productivity in Uemakuni Village through quantitative descriptive analysis using the CIPP ( Context, Input, process, product) model. The population consisted of 183 active farmers, and purposive sampling was used. The CIPP evaluation results indicate that agriculture remains cultural. In terms of input, farmers use superior seeds, chemical fertilizers, and pesticides. Cultivation processes are still traditional including slash land burn, intercropping and polycultural planting patterns, and manual maintenance. Productivity results show positive progress, with an average annual yield of 7,361 coconuts/ha, 10.25 tons/ha of corn/ha, and 454.8 kg/ha of chilies. Overall, agricultural in this village has supported the community’s economy, but improvements in land management and the use of better technology are recommended.
Copyrights © 2026