The absence of mothers working as migrant workers creates various psychosocial challenges that can affect the psychological well-being of children, especially women entering early adulthood. This condition is often characterized by feelings of loneliness, limited emotional support, and difficulty building interpersonal relationships. This study aims to describe the psychological well-being experiences of early adult women whose mothers have been working as migrant workers since childhood. This study used a qualitative method with a phenomenological approach, and was analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The informants consisted of three women aged 21-22 years selected through purposive sampling. Data were obtained through semi-structured interviews and non-participant observation. The results show that maternal absence creates a sense of loss and limited emotional support, but also forms adaptive mechanisms such as self-acceptance, independence, and resilience. Family support, long-distance communication with the mother, and the presence of a substitute figure play important roles in maintaining psychological well-being. This study confirms that psychological well-being is a dynamic process influenced by life experiences, with implications for the need for psychosocial support and policies that address the emotional aspects of children from migrant worker families. AbstrakKetidakhadiran ibu yang bekerja sebagai tenaga kerja migran menimbulkan berbagai tantangan psikososial yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak, terutama perempuan yang memasuki tahap dewasa awal. Kondisi ini sering ditandai dengan rasa kesepian, keterbatasan dukungan emosional, dan kesulitan membangun hubungan interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman kesejahteraan psikologis perempuan dewasa awal yang sejak kecil ditinggal ibunya bekerja sebagai tenaga kerja migran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, serta dianalisis dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Informan terdiri dari tiga perempuan berusia 21-22 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ibu menimbulkan rasa kehilangan dan keterbatasan dukungan emosional, tetapi juga membentuk mekanisme adaptif berupa penerimaan diri, kemandirian, dan resiliensi. Dukungan keluarga, komunikasi jarak jauh dengan ibu, serta keberadaan figur pengganti berperan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menegaskan bahwa kesejahteraan psikologis merupakan proses dinamis yang dipengaruhi pengalaman hidup dengan implikasi pada perlunya pendampingan psikososial dan kebijakan yang memperhatikan aspek emosional anak dari keluarga pekerja migran.
Copyrights © 2025