According to social and personal psychology, religiosity and personality are related to attitudes towards various social groups, but there is still little research exploring how these two aspects, especially dark personality, might contribute to social attitudes. This study examined the role of religiosity and Dark Tetrad traits (narcissism, Machiavellianism, psychopathy, and sadism) on prejudice toward non-Muslim groups in Indonesia. Participants consisted of 111 Muslim students in Yogyakarta. We used a correlational research design with multiple regression analysis. The results showed that Dark Tetrad traits played a role in prejudice toward non-Muslim groups (p = 0.03 ; p<0.05), while religiosity did not (p = 0.362). The current study presented new evidence that aspects of personality contribute more to inter-religious prejudice. The implication is that it is important to understand the differences between religious groups by considering the individual factors. In addition, these findings can be used to facilitate policy integration at various community levels and support adaptive decision-making in daily life regarding diversity in Indonesia. AbstrakMenurut psikologi sosial dan psikologi kepribadian, religiusitas dan kepribadian terkait dengan sikap terhadap berbagai kelompok sosial, namun masih sedikit penelitian yang mengeksplorasi bagaimana kedua aspek tersebut, khususnya dark personality, dapat berkontribusi terhadap sikap sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran religiusitas dan dark tetrad traits (narsisme, machiavellianisme, psikopati, dan sadisme) terhadap prasangka terhadap kelompok non-Muslim di Indonesia. Partisipan terdiri dari 111 orang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional dengan analisis regresi berganda. Hasil menunjukkan dark tetrad traits berperan terhadap prasangka terhadap kelompok non-Muslim (p = 0.03; p < 0.05), sedangkan religiusitas tidak (p = 0.362). Penelitian ini menyajikan bukti baru bahwa aspek kepribadian lebih berkontribusi terhadap prasangka antarkelompok agama di Indonesia. Implikasinya, penting untuk lebih memahami prasangka antarkelompok agama dengan memperhatikan faktor individu. Selain itu, temuan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu integrasi kebijakan pada berbagai tingkat komunitas dan mendukung pengambilan keputusan adaptif dalam kehidupan sehari-hari terkait keberagaman di Indonesia.
Copyrights © 2026