The Journal of Hospital Accreditation (JHA)
Vol. 5 No. 02 (2023)

Hubungan Persepsi Kolaborasi Interprofesi Dengan Budaya Keselamatan Pasien Bagi Dokter – Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Di Kabupaten Kudus

Rachmadian Akmal (Magister Manajemen Rumah Sakit, Program Studi Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia)
Betha Candra Sari (Rumah Sakit Gigi dan Mulut Muhammadiyah, Yogyakarta, Indonesia)
Adi Utarini (Department of Health Policy and Management, Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada)



Article Info

Publish Date
30 Jul 2023

Abstract

Latar belakang: Adverse events (AEs) menjadi hal yang sangat substantial di rumah sakit. Salah satu rekomendasi untuk menurunkan angka adverse events adalah dengan mengimplementasikan budaya keselamatan pasien (patient safety culture). Banyak kejadian medical error yang diakibatkan komunikasi dan koordinasi antar tenaga kesehatan profesional yang kurang baik. Kolaborasi dokter-perawat sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien, serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Budaya keselamatan pasien dan kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat masih menjadi permasalahan di rumah sakit. Jenis profesi, lama masa kerja, dan pengalaman kerja, memiliki dampak terhadap persepsi kerjasama interprofesi dan keselamatan pasien. Tujuan: Menilai perbedaan persepsi kolaborasi dokter-perawat dan budaya keselamatan pasien berdasarkan profesi, masa kerja, dan antar rumah sakit serta mengukur hubungan antara persepsi kolaborasi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional survei yang dilakukan di tiga rumah sakit di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Populasi penelitian adalah dokter dan perawat di rumah sakit, dengan besar sampel 281 yang diambil secara stratified random sampling. Instrumen menggunakan kuesioner Jefferson Scale of Attitudes Toward Physician-Nurse Collaboration dan Hospital Survey on Patient Safety Culture HSOPSC 2.0 dari AHRQ versi Bahasa Indonesia. Analisis data dengan analisis univariat untuk mendeskripsikan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, dan analisis bivariat untuk menilai perbedaan rerata menggunakan uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis serta menilai korelasi dengan uji Spearman. Hasil: Perawat memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding dokter (p<0,05). Masa kerja ≥11 tahun juga memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding ≤11 tahun (p<0,05). Pada dimensi budaya keselamatan pasien, nilai terendah dan membutuhkan perbaikan di ketiga RS terdapat pada dimensi Pengelolaan staf dan ritme kerja, Respon terhadap kesalahan yang terjadi, dan Melaporkan insiden keselamatan pasien. RS A (RS pemerintah) memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding RS B dan C (RS Swasta) (p<0,05). Terdapat hubungan antara kolaborasi interprofesi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien menurut profesi, masa kerja dan Rumah Sakit. Kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat berdampak positif pada budaya keselamatan pasien. Rumah Sakit di Kabupaten Kudus perlu meningkatkan budaya keselamatan pasien, dengan dukungan manajemen rumah sakit untuk pengembangan kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien secara berkelanjutan. Kata Kunci: Kolaborasi Interprofesional, Budaya Keselamatan Pasien, Rumah Sakit

Copyrights © 2023






Journal Info

Abbrev

JHA

Publisher

Subject

Dentistry Health Professions Medicine & Pharmacology Nursing Public Health

Description

Jurnal ini diperuntukan untuk sosialisasi artikel ilmiah terkait dengan pengembangan, penerapan dan evaluasi sistem akreditasi rumah sakit, termasuk didalamnya artikel ilmiah tentang regulasi akreditasi, standar akreditasi, manajemen lembaga akreditasi, surveior akreditasi, dan berbagai hal lain ...