Adi Utarini
Department of Health Policy and Management, Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Dampak Identifikasi Penyebab Rendahnya Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul: Sebuah Studi Kasus Sely Aprianda Syah Putri; Betha Candra Sari; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.173

Abstract

Background: Patient safety is a serious problem that occurs globally, which affects the quality of health services. Reporting patient safety incidents is at the heart of service quality, but those who carry it out are still lacking, health workers' awareness of this is still quite low. Based on initial observations, as of June 2022 there were 24 reports. This condition is far below the IOM estimate which states that the IKP rate is around ± 10% of the number of hospitalized patients. One of the efforts to improve the quality of IKP is the contribution of the District Health Authority in monitoring and evaluation. Objective: Identifying the causes of low reporting of patient safety incidents at RSUD Panembahan Senopati. Methods: This type of research is a case study conducted by in-depth interviews and document review. The subjects of this study consisted of the chairman of the Hospital Patient Safety Sub-Committee, the secretary of the Hospital Patient Safety Sub-Committee, the coordinator and officers in the emergency room unit, nakula sadewa pediatric room, arjuna bisma room, setyaki surgical room and the District Health Authority Bantul. The sampling method in this study used purposive sampling technique with technical analysis using pattern matching. Results: RSUD Panembahan Senopati is trying to establish a learning culture dimension in building a patient safety culture. The inhibiting factors in IKP reporting at this hospital are individual understanding, fear of blame, reporting process, organization/system and work environment. Meanwhile, the supporting factors are interpersonal relationships, motivation and rewards. The District Health Authority Bantul has not optimized its role in carrying out guidance and supervision according to the Indonesian Ministry of Health Circular Letter Number HK.02.02/I/4254/2021. Conclusion: The low reporting of patient safety incidents at Panembahan Senopati Hospital is caused by several factors, namely the lack of individual understanding, the fear of being blamed, the reporting process, the organization and the hospital work environment, even though this hospital has an internal policy in the form of Director Regulation Number 12 of 2022 and formed a PIC / Champion as an effort to cultivate IKP reporting. Keywords: Patient safety incident reporting, Patient Safety, Berwick's Theory, The role of District Health Authorities
Implementasi Point of Care Quality Improvement (POCQI) Untuk Meningkatkan Tata Laksana Bayi Baru Lahir Pada Persalinan Seksio Sesarea Ribkhi Amalia Putri; Rukmono Siswihanto; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.185

Abstract

Latar Belakang: Setiap bayi baru lahir mendapatkan perawatan neonatal esensial sebagai perawatan rutin untuk meminimalkan komplikasi yang dapat berakibat sampai kematian. Pemisahan antara ibu dan bayi baru lahir terutama pada persalinan seksio sesarea masih cukup tinggi jika dibandingkan persalinan normal. Angka seksio sesarea yang tinggi menghambat penundaan penjepitan tali pusat mminimal 30 detik, Inisiasi Menyusu Dini, dan rawat gabung segera. Model Point of Care Quality Improvement (POCQI) adalah pendekatan manajemen yang dapat digunakan petugas kesehatan untuk mengelola pasien di tingkat unit pelayanan untuk memastikan pasien menerima perawatan kesehatan yang berkualitas. POCQI memiliki kelebihan mampu memetakan permasalahan riil di unit pelayanan, mudah dikerjakan, melibatkan petugas di unit tersebut, serta menerapkan siklus Plan Do Study Act (PDSA) yang terus-menerus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode POCQI dalam meningkatkan kualitas pelayanan bayi baru lahir dan IMD pada persalinan seksio sesarea. Metode: Penelitian ini merupakan action research yang dilakukan di RS Islam Jakarta Cempaka Putih pada Bulan Juni 2023. Tim melakukan langkah POCQI, termasuk di dalamnya dua siklus PDSA, dengan tim seksio sesarea sebagai subjek. Semua persalinan seksio sesarea dengan bayi aterm dimasukkan dalam pengamatan. Kriteria eksklusi ibu adalah kondisi hemodinamik tidak stabil atau ibu dalam anestesi umum. Sedangkan kriteria eksklusi bayi adalah kurang bulan, tidak bugar, kembar, dan terdapat kelainan kongenital. Hasil: Setelah siklus PDSA I, terdapat kenaikan capaian IMD minimal 15 menit pada persalinan seksio sesarea dari 0% menjadi 53.85%, penundaan penjepitan tali pusat 30 detik dari 36.84% menjadi 76.92%, serta jarak rawat gabung ≤4 jam dari 0% menjadi 53.33%. Setelah siklus PDSA II, kenaikan capaian IMD minimal 15 menit naik menjadi 81.82%%, penundaan penjepitan tali pusat 30 detik menjadi 81.82%, serta jarak rawat gabung ≤4 jam menjadi 60.87%. Pada observasi sampai dengan minggu kelima, peningkatan mencapai >90% untuk ketiga indikator. Selama dilakukan perubahan tersebut, tidak ada bayi yang dilaporkan hipotermia. Kesimpulan: Metode POCQI efektif untuk meningkatkan pelayanan bayi baru baru lahir seksio sesarea di RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Perlu PDSA berkelanjutan serta langkah untuk mempertahankan perubahan tersebut.
Utilizing Teledentistry for Managing Patients: A Systematic Review of Dentist Satisfaction Jeanette Widjaja; Martina Sinta Kristanti; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.211

Abstract

Background: The global COVID-19 epidemic has hastened the digital disruption period, resulting in significant technical advancement in dental information and communication via teledentistry. Dentist satisfaction is one of the indicators that is able to reflect the level of technology acceptance, willingness to use, attitude, and confidence of utilizing teledentistry in their daily practices. Dentist satisfaction is crucial to be assessed in conjunction with patient satisfaction. Objective: The aim of the current study was to review dentist satisfaction in using teledentistry. Methods: The current review followed the guideline of JBI Manual for Evidence Synthesis (2021). Four databases were used for searching the articles: PubMed, Medline, Scopus, and ScienceDirect. The last date of search was March, 29th 2023. The Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) flowchart was used to record the selection process and the Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018 was applied to assess quality of the articles. Results: Eleven articles were included in this current review. Four studies were conducted in high income, three studies in middle income, three studies in middle-low income and one study was conducted in multi countries with various level of income. Dentist satisfaction scores ranged from satisfied to very satisfied. Factors influencing satisfaction were classified into five aspects: safety and convenience, quality and access, cost, infrastructure, and referral priorities. Included articles also provided information on challenges in implementing teledentistry, namely: access and infrastructure, financing, user awareness and knowledge, examination and diagnostic processes, and government support. We also identified some recommendations for enhance the implementation: improving audio-visual devices and access, maintaining data privacy, increasing remuneration, increasing training time and implementing formal curriculum of teledentistry, conducting case selections, and enforcing the use of evidence-based policies. Conclusions: Implementation of teledentistry is promising as most dentists were satisfied and received benefits from it. Feasibility studies prior to the implementations of teledentistry must be planned collaboratively amongst dentists, policymakers and insurance agencies to ensure proper implementation. Future studies should explore the use of teledentistry in lower income or developing countries to add information related to cost and infrastructural structure.
Hubungan Persepsi Kolaborasi Interprofesi Dengan Budaya Keselamatan Pasien Bagi Dokter – Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Di Kabupaten Kudus Rachmadian Akmal; Betha Candra Sari; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.228

Abstract

Latar belakang: Adverse events (AEs) menjadi hal yang sangat substantial di rumah sakit. Salah satu rekomendasi untuk menurunkan angka adverse events adalah dengan mengimplementasikan budaya keselamatan pasien (patient safety culture). Banyak kejadian medical error yang diakibatkan komunikasi dan koordinasi antar tenaga kesehatan profesional yang kurang baik. Kolaborasi dokter-perawat sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien, serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Budaya keselamatan pasien dan kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat masih menjadi permasalahan di rumah sakit. Jenis profesi, lama masa kerja, dan pengalaman kerja, memiliki dampak terhadap persepsi kerjasama interprofesi dan keselamatan pasien. Tujuan: Menilai perbedaan persepsi kolaborasi dokter-perawat dan budaya keselamatan pasien berdasarkan profesi, masa kerja, dan antar rumah sakit serta mengukur hubungan antara persepsi kolaborasi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional survei yang dilakukan di tiga rumah sakit di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Populasi penelitian adalah dokter dan perawat di rumah sakit, dengan besar sampel 281 yang diambil secara stratified random sampling. Instrumen menggunakan kuesioner Jefferson Scale of Attitudes Toward Physician-Nurse Collaboration dan Hospital Survey on Patient Safety Culture HSOPSC 2.0 dari AHRQ versi Bahasa Indonesia. Analisis data dengan analisis univariat untuk mendeskripsikan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, dan analisis bivariat untuk menilai perbedaan rerata menggunakan uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis serta menilai korelasi dengan uji Spearman. Hasil: Perawat memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding dokter (p<0,05). Masa kerja ≥11 tahun juga memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding ≤11 tahun (p<0,05). Pada dimensi budaya keselamatan pasien, nilai terendah dan membutuhkan perbaikan di ketiga RS terdapat pada dimensi Pengelolaan staf dan ritme kerja, Respon terhadap kesalahan yang terjadi, dan Melaporkan insiden keselamatan pasien. RS A (RS pemerintah) memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding RS B dan C (RS Swasta) (p<0,05). Terdapat hubungan antara kolaborasi interprofesi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien menurut profesi, masa kerja dan Rumah Sakit. Kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat berdampak positif pada budaya keselamatan pasien. Rumah Sakit di Kabupaten Kudus perlu meningkatkan budaya keselamatan pasien, dengan dukungan manajemen rumah sakit untuk pengembangan kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien secara berkelanjutan. Kata Kunci: Kolaborasi Interprofesional, Budaya Keselamatan Pasien, Rumah Sakit
Menjelang 30 Tahun Akreditasi Rumah Sakit Di Indonesia: Kemana Arahnya? Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.262

Abstract

Mutu pelayanan dan keselamatan pasien merupakan tantangan sistem pelayanan kesehatan global, termasuk di negara berpendapatan rendah-menengah. Tantangan ini juga dihadapi Indonesia dengan jumlah rumah sakit yang terus tumbuh untuk perluasan akses pelayanan kesehatan. Akreditasi merupakan penilaian eksternal organisasi oleh sebuah lembaga akreditasi, yang kemudian menghasilkan pengakuan publik terhadap kepatuhan organisasi tersebut dalam memenuhi standar yang ditetapkan. Keberlanjutan akreditasi akan sangat bergantung pada bagaimana posisi akreditasi dalam menjaga relevansinya di masa mendatang. Sistem akreditasi rumah sakit diharapkan dapat senantiasa beradaptasi untuk meningkatkan fokus bagi pelayanan pasien serta kebermanfaatannya untuk menurunkan biaya dan meningkatkan luaran klinis.