Siput apel emas (Pomacea canaliculata L.) merusak tanaman padi dataran rendah pada fase pertumbuhan awal, menyebabkan kerusakan lebih dari 70% yang mengancam hasil panen dan pendapatan petani di seluruh Asia Tenggara. Ketergantungan pada pestisida sintetis berisiko menimbulkan kerusakan lingkungan dan efek pada organisme non-target, sehingga diperlukan alternatif nabati dari tanaman lokal. Penelitian ini mengevaluasi kemanjuran pestisida nabati terhadap mortalitas siput dan kerusakan pada padi Sambutan, dengan menggunakan rancangan acak lengkap (7 perlakuan, 3 ulangan): kontrol (P0); ekstrak batang brotowali (P1), daun sembung (P2), daun ketepeng cina (P3) pada konsentrasi 75 g L⁻¹; serta kombinasi (P4–P6) masing-masing pada konsentrasi 37,5 g L⁻¹. Parameter (kematian, persentase rumpun yang diserang, intensitas serangan) dianalisis melalui ANOVA dan uji Duncan (p < 0,05). Semua bahan botani secara signifikan meningkatkan efektivitas kontrol (p < 0,05). P1–P4 mencapai mortalitas 100%, namun P2 unggul dengan persentase rumpun yang terserang terendah (51,85%) dan intensitas serangan terendah (7,78%), melampaui yang lain. Ekstrak daun sembung (75 g L⁻¹) karenanya muncul sebagai pilihan yang unggul dan ramah lingkungan untuk pengendalian siput apel emas di sawah, mendukung pengendalian hama yang berkelanjutan di daerah rawan banjir.
Copyrights © 2026