Al-dakhīl fī tafsīr merujuk pada segala bentuk informasi yang masuk ke dalam penafsiran al-qur’an akan tetapi tidak memiliki sumber yang kuat dan oritatif. Salah satu bentuk dakhil yang menyusup dalam penafsiran yaitu isrāīliyyāt, isrāīliyyāt adalah riwayat yang berasal dari cerita-cerita orang yahudi kuno dan ahli kitab yang muallaf. Memang tidak semua penafsiran isrāīliyyāt itu dakhil akan tetapi perlu diwaspadai apabila ada riwayat yang menyimpang dari hukum syariat maka itu tidak boleh dipakai. Jumhur ulama sepakat bahwa penafsiran menggunakan isrāīliyyāt sebaiknya dihindari untuk masalah hukum, penafsiran tersebut lebih baik dibuat untuk munasabah tentang keagungan sang Pencipta. Salah satu hal yang disoroti dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh isrāīliyyāt berasal dari ahli kitab yang muallaf dan contoh penafsiran yang menggunakan isrāīliyyāt. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi kembali riwayat-riwayat isrāīliyyāt dan bagaimana cara membedakan penafsiran mana yang dakhīl dan mana yang tidak, serta menilai dampaknya dalam pembentukan pemahaman umat-umat terhadap ayat al-qur’an. Penelitian ini menggunakan metode library research atau kajian kepustakaan sebagai data utama untuk menganalisis dan memahami secara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa meskipun isrāīliyyāt bisa digunakan sebagai alat bantu menafsirkan ayat al-qur’an perlu diwaspadai bahwa kebanyakan riwayat isrāīliyyāt masuk pada kategori dakhīl fī al-tafsīr atau tertolak karena bertentangan dengan aqidah dan sanad yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Copyrights © 2026