ABSTRAK: Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media yang merekam nilai budaya dan dinamika kepribadian manusia. Penelitian ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengungkap bagaimana struktur kepribadian Freud tercermin dalam tokoh cerita rakyat Puan dan Si Taddung. Tujuannya adalah menganalisis wujud id, ego, dan superego pada kedua tokoh utama serta menjelaskan peran ketiganya dalam membangun konflik naratif dan pesan moral. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten terhadap teks cerita. Data berupa tindakan, dialog, dan reaksi emosional tokoh dikumpulkan melalui pembacaan mendalam, lalu diklasifikasikan ke dalam kategori tematik id, ego, dan superego. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puan didominasi oleh kerja ego dan superego, terlihat melalui pengendalian diri, kepatuhan pada norma sosial, dan pertimbangan moral. Sebaliknya, Si Taddung menunjukkan dominasi id melalui impulsivitas, pencarian kepuasan sesaat, dan pengabaian konsekuensi sosial. Pertemuan dan benturan ketiga struktur kepribadian tersebut membentuk alur konflik sekaligus menguatkan pesan moral mengenai pentingnya pengendalian diri dan tanggung jawab atas tindakan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan psikoanalisis Freud efektif untuk mengungkap kompleksitas karakter dan menginterpretasikan nilai budaya yang terinternalisasi dalam cerita rakyat Nusantara. Selain itu, analisis ini menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat dimanfaatkan sebagai medium pembelajaran sastra dan psikologi. Penerapan konsep id, ego, dan superego membantu pembaca melihat hubungan antara dorongan batin, pertimbangan rasional, dan suara moral. KATA KUNCI: Freud; Kepribadian, Konflik; Nusantara; Moral A FREUDIAN PSYCHOANALYTIC ANALYSIS OF THE FOLKTALE PUAN DAN SI TADDUNG ABSTRACT: Folktales serve not only as entertainment but also as a vital medium for recording cultural values and the dynamics of human personality. This research is motivated by the need to uncover how Freud's personality structure is reflected in the folktale characters Puan and Si Taddung. The aim is to analyze the id, ego, and superego in the two main characters and explain their roles in constructing narrative conflict and conveying moral messages. A descriptive qualitative method was employed using content analysis techniques applied to the story text. Data, consisting of the characters' actions, dialogues, and emotional reactions, were collected through in-depth reading, then classified into thematic categories corresponding to the id, ego, and superego. The results demonstrate that Puan is dominated by the work of the ego and superego, evidenced through self-control, adherence to social norms, and moral considerations. In contrast, Si Taddung exhibits id dominance through impulsivity, the pursuit of instant gratification, and disregard for social consequences. The encounter and clash of these three personality structures shape the conflict flow while simultaneously reinforcing the moral message regarding the importance of self-control and responsibility for one's actions. These findings confirm that Freud's psychoanalytic approach is effective in uncovering the complexity of character and interpreting the cultural values internalized in Indonesian folktales. Furthermore, this analysis shows that folktales can be utilized as a dual medium for studying literature and psychology. The application of the concepts of id, ego, and superego helps readers see the relationship between inner drives, rational considerations, and moral judgment. KEYWORDS: Freud; Personality; Conflict; Archipelago; Morals
Copyrights © 2026