Penghayat kepercayaan Sapta Darma di Yogyakarta juga mengekspresikan identitas keagamaannya walaupun berada di tengah mayoritas mainstream agama. Meskipun Sapta Darma kerapkali memperoleh steoreotip atau labelling negatif dari masyarakat maupun kelompok mainstream, mereka tetap berpegang teguh pada keyakinannya dan tetap menjalankan ritual sesuai dengan kepercayaan yang diyakininya. Penelitian ini difokuskan untuk melihat dan menjelaskan tentang penguatan identitas keagamaan dan spiritualitas, serta upaya para penganut Sapta Darma dalam menyebarkan ajarannya. Metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teori identitas dan konstruksi sosial dipakai dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa penguatan identitas dilakukan secara kolektif. Seperti melakukan Sanggaran yang bertempat di Sanggar-sanggar warga Sapta Darma dipimpin oleh penuntun sanggar, mengadakan jejaring dengan LSM ataupun para penghayat lain juga merupakan bentuk pengenalan dan penguatan identitas mereka, serta upaya untuh menghapus stereotip negatif yang ada di masyarakat luar. Sementara itu, melalui media metode penyembuhan di jalan tuhan dan menerapkan ajaran wewarah tujuh ke dalam tingkah laku keseharian merupakan bentuk strategi untuk mengenalkan dan menyebarkan ajaran Sapta Darma.
Copyrights © 2024