This study aims to describe and analyze the communication behavior of the Muslim community in Harang Julu Village regarding the practice of beard-keeping, which is a sunnah recommended by the Prophet Muhammad, but is often misunderstood in social contexts. This study uses a qualitative approach with descriptive methods, which seeks to understand the phenomenon in depth from the perspective of the research subjects. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, participant observation, and documentation of religious leaders, community leaders, and individuals who do or do not grow beards. The results show that public perception of beards is not only influenced by religious teachings, but also by local cultural factors, media, and personal experiences in interacting with bearded individuals. In social reality, beards are often associated with certain groups considered exclusive or radical, thus giving rise to a negative stigma. This condition creates a gap between the normative values of Islamic teachings and the understanding of the general public. Furthermore, this study found a tendency for less inclusive communication behavior, such as prejudice, stereotypes, and discriminatory treatment of individuals who grow beards. Therefore, educational efforts and constructive dialogue are needed to create a more objective and proportional understanding. This research is expected to be an academic contribution in strengthening religious communication that is tolerant, inclusive, and able to bridge differences in perception within society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sekaligus menganalisis perilaku komunikasi masyarakat Muslim di Desa Harang Julu terhadap praktik pemeliharaan jenggot, yang merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad, namun kerap disalahpahami dalam konteks sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang berupaya memahami fenomena secara mendalam berdasarkan perspektif subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi terhadap tokoh agama, tokoh masyarakat, dan individu yang memelihara maupun tidak memelihara jenggot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap jenggot tidak hanya dipengaruhi oleh ajaran agama, tetapi juga oleh faktor budaya lokal, media, serta pengalaman pribadi dalam berinteraksi dengan individu berjenggot. Dalam realitas sosial, jenggot sering diasosiasikan dengan kelompok tertentu yang dianggap eksklusif atau radikal, sehingga memunculkan stigma negatif. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kesenjangan antara nilai normatif ajaran Islam dengan pemahaman masyarakat awam. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan adanya kecenderungan perilaku komunikasi yang kurang inklusif, seperti prasangka, stereotip, hingga perlakuan diskriminatif terhadap individu yang memelihara jenggot. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi dan dialog yang konstruktif agar tercipta pemahaman yang lebih objektif dan proporsional. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dalam memperkuat komunikasi keagamaan yang toleran, inklusif, serta mampu menjembatani perbedaan persepsi di tengah masyarakat.
Copyrights © 2026