Meningkatnya kebutuhan akan efisiensi mobilitas di kawasan perkotaan menuntut adanya sistem navigasi cerdas yang mampu menentukan jalur perjalanan paling optimal. Penelitian ini mengkaji permasalahan pencarian rute terpendek ( shortest path problem ) dengan membandingkan kinerja komputasi algoritma Dijkstra dan A* (A-Star). Eksperimen dilakukan secara komprehensif pada representasi graf jaringan jalan nyata di Kota Medan (terdiri dari 42.692 node dan 99.736 edge ) yang diekstraksi melalui OpenStreetMap (OSM). Pengujian menggunakan 100 test case yang terstratifikasi dalam kategori jarak dekat, sedang, dan jauh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua algoritma secara konsisten menghasilkan jarak rute yang identik, membuktikan bahwa penggunaan heuristik hasrsine pada A* tetap menjamin optimalitas jalur. Namun dari segi efisiensi waktu eksekusi, algoritma A* terbukti jauh lebih unggul dengan memenangkan 95% kasus uji dan mencatatkan rata-rata speedup sebesar 2,83 kali lipat dibandingkan Dijkstra. Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa keunggulan waktu komputasi A* memuncak pada rute jarak dekat (3,77x) dan perlahan menurun pada rute jarak jauh (1,68x) akibat kompleksitas topologi jaringan jalan. Berdasarkan uji statistik uji t berpasangan, perbedaan kinerja ini dinyatakan signifikan. Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi rujukan strategi bagi pengembangan sistem transportasi digital, khususnya penyesuaian algoritma perutean pada kondisi topologi lalu lintas riil di Indonesia.
Copyrights © 2026