Terdapat beberapa konflik dan masalah yang muncul dalam pernikahan. Salah satu dari bentuk konflik yang terjadi adalah suami menikah lagi atau berpoligami. Poligami dapat diartikan mempunyai istri lebih dari satu orang secara bersamaan. Seorang perempuan yang menerima kenyataan bahwa dirinya telah di poligami dan menjalani kehidupannya dengan baik, kemudian mampu mengendalikan problematika serta kembali bangkit, maka mereka telah memiliki resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan gambaran resiliensi pada istri pertama yang dipoligami. Menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat orang partisipan, yaitu istri pertama yang dipoligami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat partisipan telah mampu melalui aspek-aspek resiliensi serta sumber terbentuknya resiliensi, seperti: I have, I am, dan I can. Masing-masing subyek RI, HN, EE, dan MM menunjukkan cara dan tingkat resiliensi yang berbeda. Hal ini dipengaruhi latar belakang pendidikan dan pekerjaan, usia pernikahan saat poligami, alasan suami berpoligami, serta strategi pribadi dalam menghadapi masalah. Keempat partisipan ditemukan telah mampu memiliki resiliensi dengan cara yang berbeda-beda.
Copyrights © 2026