Dalam struktur tenaga kerja saat ini, ketidakcocokan antara keterampilan pekerja dan kebutuhan pekerjaan atau kegagalan skill matching menjadi tantangan struktural yang semakin kompleks akibat ketidakseimbangan informasi antara pekerja dan pemberi kerja. Pekerja kerap tidak sepenuhnya mengungkapkan kemampuan mereka demi menjaga posisi, sementara pemberi kerja kesulitan memperoleh data akurat tentang potensi karyawan. Kondisi ini diperparah oleh sistem insentif yang kurang tepat, karena manajer umumnya dinilai berdasarkan kinerja jangka pendek sehingga cenderung mempertahankan talenta terbaik dalam timnya daripada mendorong mobilitas internal. Situasi tersebut memicu budaya skill hoarding, yaitu kecenderungan karyawan enggan berbagi pengetahuan atau mencari peluang di luar bidangnya, serta praktik manajer yang membatasi pergerakan talenta demi menjaga produktivitas unit. Penelitian ini menganalisis peran asimetri informasi dan insentif yang tidak selaras dalam memperkuat kegagalan skill matching dan budaya hoarding melalui tinjauan literatur ekonomi tenaga kerja, model principal-agent, serta studi kasus organisasi. Hasilnya menunjukkan dampak negatif berupa menurunnya mobilitas dan inovasi, misalokasi talenta, meningkatnya turnover sukarela karyawan berpotensi tinggi, stagnasi pengembangan keterampilan, serta pelebaran ketimpangan karier termasuk isu gender dalam kepemimpinan. Temuan ini menegaskan pentingnya reformasi sistem insentif manajerial dan peningkatan transparansi keterampilan guna menciptakan lingkungan kerja yang sehat, berkelanjutan, dan kompetitif .
Copyrights © 2026