Bencana hidrometeorologi sering diikuti oleh peningkatan kejadian penyakit kulit, terutama di wilayah tropis. Paparan lingkungan, sanitasi yang buruk, serta perpindahan penduduk berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dermatologis pascabencana. Data mengenai pola penyakit kulit pascabencana di Aceh, Indonesia, masih terbatas. Mendeskripsikan pola dan distribusi penyakit kulit yang ditemukan dalam kegiatan pengabdian masyarakat dermatologi setelah bencana hidrometeorologi di Kabupaten Bireuen, Aceh. Penelitian deskriptif observasional ini dilakukan pada kegiatan pelayanan kesehatan kulit pascabencana. Sebanyak 360 pasien dengan keluhan kulit diperiksa secara klinis oleh dokter spesialis dermatologi, venereology, dan estetika. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis terstruktur dan pemeriksaan fisik. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase. Penyakit kulit terbanyak adalah infeksi jamur (45,0%), diikuti oleh dermatitis kontak iritan (30,0%) dan infeksi bakteri kulit (20,0%). Kelompok usia dewasa merupakan kelompok terbanyak (60,0%). Infeksi jamur lebih sering ditemukan pada lansia, sedangkan dermatitis kontak iritan paling banyak pada kelompok dewasa. Penyakit kulit infeksi dan iritan merupakan beban dermatologis utama setelah bencana hidrometeorologi di Bireuen, Aceh. Intervensi dermatologi dini perlu diintegrasikan dalam respons kesehatan masyarakat pascabencana untuk menurunkan morbiditas yang dapat dicegah.
Copyrights © 2026