Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran narasi visual dalam pembentukan identitas kolektif masyarakat adat di era media sosial. Perkembangan platform digital seperti Instagram, Facebook, dan TikTok telah mengubah cara masyarakat adat merepresentasikan budaya, nilai, dan simbol kolektif mereka kepada publik yang lebih luas. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada tiga komunitas masyarakat adat di Indonesia. Data dikumpulkan melalui analisis konten visual (foto, video, infografis), wawancara mendalam dengan pengelola akun komunitas, serta observasi partisipatif terhadap interaksi audiens. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan semiotika dan teori identitas sosial untuk mengidentifikasi simbol, representasi, dan pola naratif yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi visual di media sosial berfungsi sebagai (1) media pelestarian budaya melalui representasi ritual, pakaian adat, dan bahasa lokal; (2) sarana afirmasi identitas kolektif melalui penggunaan simbol dan tagar komunitas; serta (3) strategi advokasi sosial dalam merespons isu marginalisasi dan klaim wilayah adat. Visual yang konsisten dan autentik terbukti meningkatkan kohesi internal komunitas serta memperkuat pengakuan eksternal dari publik digital. Namun, ditemukan pula tantangan berupa simplifikasi makna budaya dan komodifikasi simbol adat untuk kepentingan popularitas digital. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa narasi visual di era media sosial tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam membentuk, mempertahankan, dan mentransformasikan identitas kolektif masyarakat adat. Oleh karena itu, diperlukan literasi digital berbasis budaya agar proses representasi visual tetap otentik dan beretika
Copyrights © 2025