Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat pasca terjadinya Revolusi Islam Iran tahun 1979. Sebelum revolusi, kedua negara menjalin hubungan yang erat dan strategis, terutama pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat. Iran pada periode tersebut berperan sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, khususnya dalam bidang keamanan dan geopolitik. Namun, perubahan sistem politik Iran menjadi Republik Islam di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini membawa pergeseran signifikan dalam orientasi kebijakan luar negeri Iran yang cenderung anti-Barat. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Revolusi Islam 1979 serta krisis penyanderaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran menjadi titik awal memburuknya hubungan diplomatik kedua negara. Ketegangan tersebut berlanjut dalam berbagai isu strategis, seperti program nuklir Iran, pemberlakuan sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat, serta dinamika negosiasi internasional yang menghasilkan kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Meskipun terdapat upaya normalisasi hubungan melalui perundingan internasional, hubungan Iran dan Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi fluktuatif dan dipengaruhi oleh dinamika politik domestik maupun global. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa perubahan sistem politik domestik memiliki dampak yang signifikan terhadap arah hubungan internasional suatu negara.
Copyrights © 2026