Kajian kesantunan masih lebih banyak menekankan bentuk-bentuk linguistik, sementara penelitian yang menyoroti bagaimana siswa SMA memaknai, menegosiasikan, dan menerapkan kesantunan dalam berbagai konteks sosial serta kaitannya dengan pembentukan karakter masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persepsi siswa SMA tentang strategi kesantunan dan skala kesantunan dalam komunikasi langsung maupun digital berdasarkan perspektif sosiopragmatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui lima pertanyaan terbuka menggunakan Google Form kepada 699 siswa SMA di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memaknai bahasa santun sebagai cara mencegah konflik, menjaga hubungan sosial, dan meningkatkan efektivitas komunikasi. Kesantunan juga dipahami sebagai praktik yang sangat dipengaruhi variabel sosial seperti usia, kekuasaan, dan jarak sosial, serta dipandang sebagai indikator karakter dan identitas moral. Selain itu, siswa menyesuaikan pilihan bahasa dalam komunikasi digital karena keterbatasan isyarat nonverbal dan adanya jejak digital yang bersifat permanen. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kesantunan berbahasa siswa bersifat kontekstual dan terbangun secara sosial, serta berperan penting dalam penguatan etika komunikasi dan pendidikan karakter di era digital.
Copyrights © 2026