Kerusakan lingkungan yang kian masif menuntut landasan teologis yang kuat sebagai solusi preventif. Namun, terdapat kesenjangan antara teks alkitabiah dengan praktik ekologis di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep ekoteologi berdasarkan Kejadian 2:15 sebagai fondasi teologis dalam menanggulangi degradasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai literatur primer dan sekunder yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa rendahnya pemahaman dan implementasi nilai ekoteologi di kalangan orang percaya menjadi faktor pendorong kerusakan ekosistem dan krisis ekonomi. Ketidakmampuan menjalankan fungsi preservasi alam membuktikan perlunya rekonstruksi pemahaman atas tugas manusia sebagai pemelihara ciptaan. Penelitian menyimpulkan bahwa gereja dan komunitas Kristiani harus mengintegrasikan peran ekoteologis secara aktif dalam kehidupan praktis. Langkah ini krusial untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan yang lebih luas serta mewujudkan tanggung jawab iman yang holistik terhadap alam semesta.
Copyrights © 2026