Fenomena populisme digital telah mengubah lanskap komunikasi politik, khususnya dalam pencitraan pemimpin daerah di era post-truth yang ditandai oleh dominasi emosi, simbol, dan narasi personal dibandingkan fakta objektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi komunikasi politik populis digunakan oleh pemimpin daerah melalui media digital dalam membangun kepercayaan publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika untuk mengkaji tanda, simbol, narasi visual, dan bahasa yang ditampilkan dalam konten komunikasi politik di media sosial. Data penelitian diperoleh dari unggahan media digital resmi pemimpin daerah yang dipilih secara purposif, mencakup teks, gambar, dan video. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencitraan pemimpin daerah dalam populisme digital cenderung menekankan kedekatan emosional, kesederhanaan simbolik, serta representasi diri sebagai figur yang “merakyat” dan anti-elit. Penggunaan simbol budaya lokal, narasi personal, dan visualisasi aktivitas sehari-hari berperan penting dalam membangun persepsi autentisitas dan kepercayaan publik. Namun, temuan juga mengindikasikan bahwa strategi tersebut berpotensi mengaburkan batas antara informasi dan opini, sehingga memperkuat karakter post-truth dalam komunikasi politik. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa populisme digital merupakan strategi komunikasi yang efektif dalam membangun kepercayaan publik secara simbolik dan emosional, tetapi sekaligus mengandung risiko manipulasi makna dan penyederhanaan realitas politik di ruang digital.
Copyrights © 2025