Anak usia dini merupakan kelompok paling rentan saat bencana karena keterbatasan fisik dan sistem regulasi emosi yang belum matang. Simulasi evakuasi konvensional seringkali hanya fokus pada aspek motorik dan kecepatan waktu, yang justru berisiko meningkatkan kecemasan bencana (disaster anxiety) pada anak. Artikel ini bertujuan untuk mensintesis literatur mengenai dampak simulasi evakuasi terhadap dinamika psikologis anak serta merumuskan strategi intervensi yang aman secara psikologis. Penulisan ini menggunakan pendekatan tinjauan naratif (narrative review) dengan mencari literatur pada pangkalan data Scopus, PubMed, CINAHL, dan ScienceDirect dalam rentang tahun 2016 - 2026. Analisis menunjukkan bahwa simulasi berbasis permainan (play-based) dan keterlibatan aktif dapat membangun mekanisme koping proaktif melalui neuroplastisitas otak. Pengalaman penguasaan (mastery experience) terbukti meningkatkan self-efficacy anak, yang berfungsi sebagai faktor pelindung terhadap gangguan stres pasca trauma (PTSD). Rekomendasi praktis mencakup penerapan paparan bertahap terhadap elemen sensorik, penggunaan narasi (storytelling), dan pentingnya debriefing terstruktur. Integrasi dukungan mental ke dalam simulasi fisik sangat krusial. Model pendidikan bencana yang ramah anak di RA Hajjah Zahara, Deli Serdang, dapat menjadi preseden penting bagi pengembangan resiliensi komunitas sejak usia dini.
Copyrights © 2025