Penelitian ini merupakan kajian Systematic Literature Review terhadap 20 artikel ilmiah yang membahas hubungan antara politik identitas dan polarisasi sosial dalam konteks demokrasi. Politik identitas kerap digunakan oleh aktor politik sebagai strategi untuk menggalang dukungan berdasarkan kesamaan agama, etnis, atau budaya. Meskipun dapat memperkuat representasi kelompok, praktik ini sering kali memicu fragmentasi sosial dan konflik. Hasil kajian menunjukkan bahwa polarisasi semakin diperkuat oleh ketimpangan sosial-ekonomi serta peran algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema (echo chambers) dan mempercepat penyebaran konten provokatif. Dampaknya meliputi meningkatnya intoleransi, delegitimasi terhadap lawan politik, serta menurunnya kepercayaan terhadap institusi demokrasi. Polarisasi juga tidak hanya terjadi pada tingkat ideologis, tetapi merambah ke dimensi afektif dan kognitif yang menghambat dialog publik yang konstruktif. Upaya penanggulangan yang diidentifikasi meliputi penguatan pendidikan toleransi, peningkatan literasi digital, regulasi media, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan yang inklusif. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa politik identitas memiliki peran ganda sebagai sarana partisipasi demokratis sekaligus potensi ancaman bagi kohesi sosial apabila tidak dikelola secara bijak.
Copyrights © 2026