Guru merupakan ujung tombak untuk keberhasilan pendidikan. Guru diharuskan memiliki kompetensi pedagogi, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional. Jika guru tidak memenuhi kompetensi tersebut, maka guru berkewajiban untuk melakukan upaya pengembangan diri. Dengan kata lain, guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengajar, memfasilitasi proses belajar siswa, memiliki pribadi yang mengayomi, dan menjalin relasi yang baik dengan rekan kerja sesama guru, tenaga administrasi, jajaran manajemen sekolah, serta orang tua atau wali siswa. Berbagai kewajiban ini merupakan sumber stres bagi guru. Jenjang pendidikan yang memberikan tekanan paling tinggi adalah pada pendidikan dasar. Para guru sekolah dasar diberikan tugas untuk melanjutkan pembentukan diri siswa dari pendidikan usia dini sekaligus mendapatkan tuntutan untuk membuat fondasi bagi anak untuk siap belajar menggunakan operasi kognitif yang lebih kompleks (high order thinking). Usaha yang paling mungkin dilakukan oleh guru adalah dengan melakukan perubahan diri dan relasi di lingkungan kerja. Berdasarkan persoalan tersebut, solusi yang ditawarkan adalah Pelatihan Membangun Relasi Positif untuk Mengelola Stress Kerja pada Guru SD di Kabupaten Sidoarjo. Dengan mengikuti pelatihan ini, para guru diharapkan akan dapat membangun pribadi yang kuat dalam mengelola tekanan, serta mampu membangun relasi positif dengan rekan kerja, yang dapat berdampak pada pembentukan lingkungan kerja yang suportif. Pelatihan dilakukan dengan pendekatan ABC Model dan latihan pernapasan relaksasi. Partisipan dalam pelatihan ini terdiri dari 12 guru. Hasil uji paired-sample T-Test menunjukkan nilai t = -5,64 dengan signifikansi p < 0,001, yang berarti program pelatihan efektif untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan stres.
Copyrights © 2026