Rasa penasaran atau ‘kepo’ telah menjadi bagian dari perilaku masyarakat dalam berinteraksi di media sosial. Rasa Penasaran (Curiosity) menjadi salah satu penggerak utama uang mendorong seseorang untuk belajar dan turut memengaruhi proses keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tingkat curiosity masyarakat Indonesia terhadap tren viral di media sosial serta dampak psikososial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis indigenous psychology, data dikumpulkan melalui angket terbuka online yang diisi oleh 185 partisipan berusia 14-40 tahun dari berbagai macam kalangan status pelajar, mahasiswa dan bekerja. Hasil menunjukkan 59,73% responden pernah merasa penasaran terhadap kehidupan orang lain di media sosial, dengan motivasi utama berupa kebutuhan informasi, penyesuaian sosial FOMO (Fear Of Missing Out), dan pembentukan identitas digital. Partisipasi dalam tren rata-rata bersifat selektif, dengan 71 responden yang menyatakan “Jarang”, secara alami memilih informasi Atau tren yang sesuai dengan minat, nilai, atau keyakinan mereka, dan menghindari yang tidak sesuai. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi digital untuk mengelola curiousity secara sehat dan adaptif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan instrumen pengukuran kepo yang relevan secara subkultural dan perlunya kajian lanjutan mengenai dampak psikologis dan sosial dari perilaku kepo di media sosial.
Copyrights © 2025