Pengrajin gula merah rakyat di Kecamatan Mojo, Kediri, masih mengandalkan pembakaran langsung yang memicu paparan asap/partikulat, distribusi panas tidak merata, dan mutu produk yang fluktuatif. Program pengabdian ini dipilih karena adanya urgensi terhadap peningkatan higienitas dan konsistensi mutu, sekaligus pemanfaatan bagasse (residu penggilingan tebu) yang lazim dipakai sebagai bahan bakar pada industri gula/jaggery agar lebih efisien dan ramah lingkungan. Metodenya mencakup perancangan instalasi paket pemanasan indirek berbasis uap (steam) pada mitra UD Dewi Gendis: boiler berbahan bakar bagasse untuk menghasilkan uap, integrasi tungku pemasakan nira bertenaga steam (pemanasan tak langsung), pelatihan operasi–perawatan, serta uji coba terkontrol dengan pemantauan suhu dan °Brix. Hasil awal menunjukkan proses lebih higienis (tanpa kontak asap), penyebaran panas lebih merata, dan kecenderungan warna lebih cerah serta tekstur lebih seragam pada gula merah. Temuan ini menegaskan potensi peningkatan produktivitas UMKM sekaligus praktik produksi yang lebih bertanggung jawab, sejalan dengan SDG 8 (pekerjaan layak & pertumbuhan ekonomi) dan SDG 12 (konsumsi–produksi berkelanjutan). Implementasi pemanasan indirek berbasis steam relevan sebagai pendekatan teknis - sosial untuk menaikkan mutu, efisiensi energi, dan keberlanjutan produksi gula merah rakyat.
Copyrights © 2026