Ruang publik merupakan arena sosial yang tidak netral, tempat relasi kuasa, identitas, dan ideologi dinegosiasikan melalui praktik kebahasaan. Penelitian ini mengkaji lanskap linguistik papan nama toko busana di Pamulang, Tangerang Selatan, untuk memetakan sebaran bahasa serta menafsirkan negosiasi identitas lokal–nasional, global, dan religius dalam ruang komersial suburban. Penelitian menggunakan desain mixed-method dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan dua kategori utama monolingual (53,4%) dan bilingual (46,6%). Pada kategori monolingual, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris muncul seimbang (26,7%), dengan perbedaan fungsi Bahasa Indonesia dominan secara informasional dan menegaskan identitas lokal–nasional, sedangkan Bahasa Inggris cenderung simbolik untuk membangun citra modern dan prestisius. Pada kategori bilingual, kombinasi Inggris–Indonesia paling dominan (40%), diikuti Indonesia–Inggris (3,3%) dan Arab–Inggris (3,3%). Pola bilingual memperlihatkan strategi glokalisasi. Bahasa Inggris sebagai penanda global/komersial dan Bahasa Indonesia sebagai penopang keterpahaman lokal, sementara Bahasa Arab menegaskan identitas religius yang dinegosiasikan bersama simbol modernitas. Temuan ini menegaskan bahwa ruang komersial suburban merupakan arena aktif negosiasi identitas global–lokal–religius, serta memperluas kajian lanskap linguistik di luar konteks metropolitan.
Copyrights © 2025