Kota Semarang menghadapi tantangan kepadatan penduduk dan tingginya angka backlog hunian yang mencapai 124.657 unit pada tahun 2024. Ketidakterjangkauan harga properti bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) memicu pertumbuhan permukiman tidak layak. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep perancangan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dengan pendekatan arsitektur perilaku. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menghasilkan konsep utama "LUMPIA" (Lingkungan Utama Membentuk Perilaku Interaksi Akrab). Konsep ini mengintegrasikan karakteristik sosial penghuni dengan mitigasi kondisi geografis pesisir Semarang yang rawan banjir. Implementasi desain meliputi orientasi bangunan hemat energi, penggunaan bioswale, serta penyediaan koridor luas dan ruang komunal sebagai pemicu interaksi sosial. Hasil penelitian ini memberikan panduan desain hunian vertikal yang adaptif, manusiawi, dan berkelanjutan bagi peningkatan kualitas hidup MBR di wilayah pesisir.
Copyrights © 2025