Masyarakat yang mampu menggunakan lebih dari satu bahasa disebut masyarakat dwibahasawan. Dalam situasi kedwibahasaan, penggunaan bahasa tidak selalu berlangsung secara tetap, tetapi sering mengalami peralihan dan pencampuran bahasa saat proses interaksi berlangsung. Fenomena tersebut mengakibatkan munculnya alih kode dan campur kode dalam percakapan sehari-hari. Kondisi ini umumnya terjadi pada masyarakat yang hidup dalam lingkungan multilingual dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam, seperti masyarakat Desa Gesik Blok Kembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan secara mendalam fenomena kebahasaan yang berkaitan dengan berbagai bentuk alih kode dan campur kode, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode dan campur kode dalam interaksi masyarakat. Desa Gesik Blok Kembang.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, perekaman, dan pencatatan terhadap tuturan masyarakat dalam situasi komunikasi alami. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik deskripsi, identifikasi, dan klasifikasi untuk menentukan jenis alih kode dan campur kode yang muncul serta faktor yang melatar belakanginya.Hasil penelitian menunjukkan adanya alih kode internal antar bahasa dan alih kode internal antar ragam bahasa. Selain itu, ditemukan pula campur kode yang berupa penyisipan kata dan penyisipan frasa dalam tuturan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya alih kode dan campur kode meliputi faktor mitra tutur, kebiasaan penggunaan bahasa, serta maksud dan tujuan penutur dalam berkomunikasi agar pesan dapat tersampaikan secara lebih efektif.
Copyrights © 2026