Dalam lanskap pendidikan kontemporer Indonesia, implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di institusi pendidikan umum seringkali mengalami reduksi makna yang signifikan. Fokus kebijakan kerap terisolasi pada dimensi kognitif-akademik semata, seperti literasi baca-tulis fiksi atau non-fiksi umum, sementara dimensi literasi religius-khususnya pembacaan Al-Qur'an-belum mendapatkan proporsi manajerial yang strategis dan seringkali terpinggirkan sebagai agenda sekunder. Artikel ini bertujuan untuk melakukan analisis komprehensif dan mendalam mengenai strategi implementasi program literasi Al-Qur'an di SMAN 1 Kota Bima, serta mengeksplorasi implikasi teoretis dan praktisnya terhadap penguatan karakter siswa di tengah tantangan degradasi moral remaja. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif, menggali data melalui observasi partisipatif yang intensif, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan, dan analisis dokumentasi kurikulum. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan literasi Al-Qur'an telah berhasil dilembagakan melalui strategi Integrated Habituation (07.00-07.15 WITA) yang didukung oleh manajemen kolaboratif lintas mata pelajaran, melibatkan guru non-PAI sebagai fasilitator utama, sebuah langkah yang mendobrak dikotomi peran guru; (2) Program ini memberikan dampak signifikan pada pembentukan habituasi kedisiplinan dan kesiapan belajar (learning readiness) melalui mekanisme neuro-psikologis penciptaan "Zona Alfa" yang mereduksi stres akademik; (3) Hambatan sarana fisik diatasi melalui mekanisme social learning dalam bentuk peer-tutoring dan adaptasi teknologi digital. Kesimpulannya, keberhasilan literasi religius di sekolah umum tidak semata bergantung pada instruksi kurikulum, melainkan pada political will kepemimpinan sekolah yang kuat dan desentralisasi pengawasan yang menghapus sekat antara ilmu umum dan agama.
Copyrights © 2026