Artikel ini mengkaji transformasi identitas komunitas Arab Hadrami di Yogyakarta pada awal abad ke-20, dalam kaitannya dengan proses akulturasi budaya dan perubahan sosial-politik kolonial. Dengan menempatkan Kampung Sayidan sebagai studi kasus, tulisan ini menelusuri bagaimana kelompok Arab yang pada awalnya mempertahankan eksklusivisme kultural dan religius, secara perlahan mengalami pergeseran identitas melalui interaksi intensif dengan budaya Jawa, kebijakan kolonial, serta dinamika keislaman lokal. Melalui pendekatan historis-kritis dan kerangka teori identitas budaya hibrida (Bhabha) serta konsep “Islam Jawa” (Geertz), artikel ini menunjukkan bahwa identitas Arab di Yogyakarta tidak bersifat statis, melainkan terbentuk dalam ruang negosiasi yang kompleks antara asal-usul Hadrami, realitas lokal, dan tekanan modernisasi. Transformasi ini tampak dalam beberapa aspek: penggunaan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, partisipasi dalam tradisi sosial-keagamaan lokal seperti slametan, hingga peran dalam pendidikan dan gerakan keislaman modern seperti Muhammadiyah. Di sisi lain, muncul pula ketegangan antar generasi, terutama ketika identitas Arab diasosiasikan dengan keunggulan nasab dan eksklusivitas sosial. Hasil kajian ini mengungkap bahwa identitas kultural Arab tidak lenyap, tetapi direkonfigurasi dalam bentuk identitas ganda; menjadi “Arab-Jawa” yang justru memperkuat kapasitas adaptif mereka dalam masyarakat multikultural. Dengan demikian, artikel ini menempatkan proses transformasi identitas ini sebagai salah satu model ketahanan budaya yang relevan dalam menghadapi krisis identitas dan tantangan integrasi sosial di Indonesia kontemporer. Kata Kunci: Arab Hadrami; Identitas Hibrida; Budaya Jawa; Akulturasi; Islam Lokal.
Copyrights © 2025