Latar Belakang: Prevalensi kejadian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mengalami kenaikan tiap tahunnya. Setidaknya terdapat ribuan penyintas yang pernah mengalami kekerasan yang tentu berdampak terhadap perilaku resilien (bertahan) pada seorang penyintas. Tujuan: Mengeksplorasi proses kejadian KDRT yang menunjukkan pola perilaku resiliensi yang dilakukan para penyintas (survivor). Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penentuan informan sebagai sumber data dalam penelitian dilakukan secara purposive, yaitu dipilih dengan berdasarkan asas subyek yang mengalami KDRT. Informan terdiri dari 13 orang termasuk penyintas KDRT, keluarga, dan pihak dari masing-masing lembaga terkait. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa delapan informan mengalami berbagai jenis kekerasan seperti kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, dan kekerasan psikis. Dampak yang ditunjukkan pun beragam sehingga beberapa informan mengaku bahwa sebelum menerapkan perilaku resilien, mereka sempat melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Pelaku juga kadang melakukan tindakan seperti menyalahkan korban dan malah membuat korban harus meminta maaf. Perilaku resilien yang ditunjukkan pun berbeda-beda seperti melakukan upaya pencarian bantuan, upaya konfrontasi pada kekerasan, dan kemampuan coping terhadap stressor. Kesimpulan: Perilaku resilien pada penyintas KDRT menunjukkan beberapa perbedaan pada waktu dan perilaku yang dilakukan tapi hasil menunjukkan kesamaan faktor yang mempengaruhi perilaku resilien itu sendiri yakni dominan karena kehadiran anak. Hal ini diharapkan kepada penyintas dan korban KDRT hendaknya mencari bantuan profesional baik lembaga hukum atau bantuan profesional kesehatan.
Copyrights © 2023