Tren pariwisata pascapandemi mengarah pada konsep keberlanjutan, seperti yang diusung oleh Kemenparekraf melalui NEWA (Nature, Eco-Tourism, Wellness Tourism, dan Adventure Tourism). Desa Wisata Tegal Loegood (sering juga disebut Tegal Lugud) merupakan contoh penerapan konsep ekowisata dan Community-Based Tourism (CBT), yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan destinasi wisata berbasis lingkungan dan budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menganalisis peran masyarakat dalam mengelola ekowisata di Desa Wisata Tegal Lugud. Temuan menunjukkan bahwa desa ini memiliki potensi besar, seperti pertanian salak organik, peternakan kambing etawa, dan hutan bambu. Namun, terdapat tantangan utama, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata, serta kendala pemasaran dan pengelolaan produk lokal. Sebagai solusi, berbagai strategi telah diterapkan, seperti pelatihan kapasitas sumber daya manusia, pemasaran digital, serta penguatan sistem pertanian dan peternakan berbasis ekowisata. Infrastruktur pendukung juga perlu diperkuat guna meningkatkan daya saing desa wisata. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan desa wisata yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan
Copyrights © 2025