Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji secara analitis proses terbentuknya polarisasi politik di kalangan Generasi Z melalui produksi konten serta pola interaksi yang berlangsung di media sosial TikTok setelah demonstrasi 25–31 Agustus 2025 di Indonesia. Fenomena ini mengindikasikan bahwa dinamika politik tidak lagi terbatas pada ruang fisik semata, melainkan turut mengalami ekspansi ke ranah digital yang dipengaruhi oleh mekanisme algoritmik platform serta kecenderungan perilaku pengguna. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus tunggal. Proses pengumpulan data dilakukan melalui observasi digital terhadap konten TikTok, wawancara semi-terstruktur dengan pengguna yang berasal dari kelompok Generasi Z, serta dokumentasi terhadap konten-konten yang dianggap relevan. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis tematik guna mengidentifikasi pola narasi, ekspresi emosional, penggunaan simbol visual, serta bentuk-bentuk interaksi antar pengguna. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa polarisasi politik terbentuk melalui fragmentasi narasi konten antara kelompok yang pro dan kontra, penguatan emosi kolektif yang muncul dalam kolom komentar, serta pemanfaatan simbol yang merepresentasikan posisi ideologis tertentu. Di samping itu, algoritma TikTok turut berperan dalam mendistribusikan konten secara repetitif sehingga memperkuat kecenderungan terbentuknya echo chamber. Adapun pola interaksi pengguna yang cenderung pasif, selektif, dan defensif semakin memperdalam segregasi informasi yang terjadi. Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai medium distribusi informasi, tetapi juga sebagai ruang yang secara aktif memproduksi sekaligus mereproduksi polarisasi politik di kalangan Generasi Z. Temuan ini menegaskan urgensi literasi digital dalam merespons arus informasi di media sosial, khususnya di kalangan Generasi Z.
Copyrights © 2026