Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang diakui secara internasional. Salah satu inovasinya adalah Batik Guta Tamarin, yang menggunakan biji asam sebagai pengganti lilin. Inovasi ini menarik karena dapat dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk Anak dengan Kesulitan Belajar (ABB). ABB, yang termasuk dalam kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), memiliki hambatan akademik namun berpotensi mengembangkan keterampilan dalam seni kriya. Penelitian ini bertujuan menelaah kemampuan ABB dalam membuat Batik Guta Tamarin sebagai produk kriya untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Data dikumpulkan melalui praktik langsung, observasi, wawancara, dan dokumentasi guna mengetahui pemahaman ABB terhadap teknik batik serta kekuatan dan kelemahan mereka selama proses. Fokus penelitian juga mencakup dampak positif maupun negatif yang dialami ABB ketika membuat batik. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan campuran, sehingga hasil yang diperoleh diharapkan lebih menyeluruh. Wawancara langsung di lokasi dilakukan agar informasi yang dikumpulkan akurat dan kontekstual. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengembangkan potensi ABB dalam seni kriya, serta mendorong kontribusi mereka pada pelestarian budaya dan penguatan UMKM di Indonesia.
Copyrights © 2025