Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif pemikiran Mahmud Yunus dan Muhammad Natsir serta kontribusinya terhadap transformasi pendidikan Islam modern. Masalah utama yang diangkat adalah adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang menyebabkan dualisme sistem pendidikan. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada problem dikotomi ilmu antara pendidikan agama dan pendidikan umum yang menyebabkan dualisme sistem pendidikan Islam di Indonesia. Metode yang digunakan adalah library research dengan teknik analisis isi terhadap berbagai literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tokoh memiliki kesamaan dalam menolak dikotomi keilmuan dan menekankan pentingnya integrasi ilmu agama dan ilmu umum. Namun, terdapat perbedaan pendekatan di antara keduanya. Mahmud Yunus lebih menitikberatkan pada aspek praktis dan struktural melalui reformasi kurikulum, penerapan sistem klasikal, serta modernisasi lembaga pendidikan. Sementara itu, Muhammad Natsir lebih menekankan aspek filosofis dengan menjadikan tauhid sebagai dasar pendidikan serta mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam pembentukan kepribadian Muslim yang utuh. Kontribusi keduanya saling melengkapi dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang integratif, holistik, dan relevan dengan tuntutan zaman. Dengan demikian, pemikiran Mahmud Yunus dan Muhammad Natsir memberikan landasan konseptual yang kuat bagi pengembangan pendidikan Islam modern yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakar pada nilai-nilai spiritual dan moral.
Copyrights © 2026