Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi masyarakat adat dalam mengembangkan minat bahasa daerah pada pemuda di Kampung Manggonswan, Distrik Kepulauan Aruri, Kabupaten Supiori, Papua. Bahasa daerah Biak saat ini menghadapi ancaman kepunahan karena generasi muda lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam keseharian. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam terhadap tokoh adat, aparat kampung, seniman budaya, orang tua, dan pemuda, serta observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi masyarakat adat memiliki peran strategis melalui pola komunikasi keluarga dan musyawarah, bentuk komunikasi dua arah dalam forum adat, norma komunikasi persuasif berbasis simbol budaya, kode verbal dan nonverbal seperti syair wor dan tari adat, serta komunikasi ritual dalam prosesi maskawin (iyakaker). Ketiga indikator utama yang memperkuat peran komunikasi tersebut adalah pewarisan nilai lintas generasi, pelibatan pemuda dalam kegiatan adat, dan adaptasi media digital sebagai sarana pelestarian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi masyarakat adat bukan hanya alat pertukaran informasi, tetapi juga medium pelestari, penggerak minat, dan pembentuk identitas bahasa daerah bagi pemuda. Revitalisasi peran tokoh adat dan keluarga sangat diperlukan agar bahasa daerah tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Copyrights © 2024