Noken (Inokson) merupakan tas tradisional khas Papua yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak pada tahun 2012. Di Biak Papua, Inokson tidak hanya berfungsi sebagai alat pembawa barang, tetapi juga sebagai simbol identitas, kearifan lokal, dan ketahanan budaya masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi internal dalam memproduksi dan memasarkan Inokson sebagai warisan budaya Biak Papua melalui Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lokal di Toko Syowi Artshop. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 7 informan (pemilik UKM, penanggung jawab toko, dan pengrajin), serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi internal memainkan peran krusial dalam mengoordinasikan kerja kolektif para pengrajin, mulai dari pengambilan bahan baku (pohon Warmas dan Mandwam), proses pengeringan, pemintalan serat, hingga tahap pemasaran. Komunikasi yang terjalin secara intensif dan partisipatif menciptakan kerja sama yang solid antara pemilik usaha, penanggung jawab, dan pengrajin. Hambatan utama meliputi ketergantungan pada kondisi cuaca (produktivitas menurun dari 5 menjadi 2 noken per hari saat hujan) serta rendahnya minat generasi muda terhadap produk warisan budaya. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi internal yang efektif merupakan kunci keberhasilan UKM dalam melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal. Disarankan penguatan komunikasi internal, pelatihan desain inovatif, serta promosi digital untuk menarik minat generasi muda.
Copyrights © 2024