Pembelajaran farmakognosi di SMK Farmasi umumnya masih berfokus pada konsep teoritis dan belum banyak mengaitkan materi dengan praktik pemanfaatan tanaman obat di lingkungan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik etnofarmasi pengolahan kunyit (Curcuma longa L.) di Desa Bengkala, mengkaji kandungan fitokimia kunyit berdasarkan studi literatur, serta mengintegrasikan temuan tersebut sebagai suplemen pembelajaran farmakognosi berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, studi literatur, dan uji organoleptik deskriptif terhadap produk loloh kunyit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Bengkala mengolah kunyit menjadi minuman herbal tradisional melalui proses pencucian, penghalusan, perebusan, dan penyaringan. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa loloh kunyit memiliki karakteristik warna kuning kecoklatan, aroma khas kunyit, rasa pahit sedang, serta tekstur cenderung encer. Kajian literatur menunjukkan bahwa rimpang kunyit mengandung metabolit sekunder seperti kurkuminoid, flavonoid, minyak atsiri, dan tanin yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, serta mendukung pengendalian kadar glukosa darah. Temuan etnofarmasi dan kajian fitokimia tersebut selanjutnya dipetakan ke dalam materi pembelajaran farmakognosi yang meliputi identifikasi simplisia rimpang, metode ekstraksi sederhana berbasis air, serta pengenalan metabolit sekunder tumbuhan obat. Integrasi ini menghasilkan suplemen pembelajaran yang kontekstual dan relevan untuk mendukung pembelajaran farmakognosi di SMK Farmasi.
Copyrights © 2026