Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika munculnya fenomena burnout dalam konteks ekosistem kerja digital serta dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dan produktivitas organisasi. Fokus kajian ini mencakup pergeseran paradigma beban kerja akibat konektivitas tanpa batas, pengaruh technostress, serta peran kepemimpinan sebagai moderator stres digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), yang mengintegrasikan berbagai literatur ilmiah, jurnal manajemen sumber daya manusia, dan psikologi industri dari satu dekade terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi yang tidak terkelola dengan baik telah mengaburkan batasan antara waktu kerja dan waktu pribadi, memicu kondisi siaga tinggi secara psikologis yang menghambat pemulihan mental. Fenomena technostress dan beban informasi berlebih (information overload) ditemukan sebagai kontributor utama kelelahan emosional yang berujung pada penurunan kualitas inovasi, di mana karyawan cenderung beralih ke mode "bertahan hidup" (survival mode). Gaya kepemimpinan suportif efektif memitigasi stres digital, sementara micromanagement berbasis teknologi justru mempercepat terjadinya burnout.
Copyrights © 2026