Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) dan Diabetes Melitus (DM) merupakan masalah kesehatan global yang saling berkaitan, di mana DM meningkatkan risiko terjadinya TB akibat gangguan sistem imun. Indonesia termasuk negara dengan beban TB tinggi, sehingga perlu dilakukan penelitian terkait kejadian TB pada pasien DM. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien TB Paru di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2024 (N=291). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (Chi-Square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil: Angka kejadian TB-DM sebesar 27,1%. Kasus terbanyak ditemukan pada usia dewasa dan laki-laki. Terdapat hubungan signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan kejadian TB-DM (p<0,05). Namun, pada analisis multivariat hanya usia yang menjadi faktor dominan (OR=2,260). Selain itu, usia dan status DM berhubungan dengan prognosis TB Paru. Pembahasan: DM meningkatkan risiko TB melalui gangguan imunitas akibat hiperglikemia. Usia lanjut memperburuk kerentanan terhadap TB dan prognosis penyakit. Meskipun laki-laki lebih banyak terkena, faktor usia lebih berperan dominan secara statistik. Koinfeksi TB-DM juga berkaitan dengan outcome klinis yang lebih buruk. Simpulan: Terdapat hubungan antara DM dan peningkatan kejadian TB Paru, dengan usia sebagai faktor dominan. Skrining TB pada pasien DM serta pengendalian gula darah sangat penting untuk menurunkan risiko dan memperbaiki prognosis.
Copyrights © 2026